header image

Perhiasan Untuk Siapa

Posted by: dolphind66 | 5 October 2009 | No Comment |
Assalamu’alaikum Wr Wb,,

Sayang,
Mari kita memeriksa diri kita sendiri, menghitung diri kita sendiri, sebelum nanti semua apa yang kita lakukan dihisab dengan amat cepat oleh ALLAH SWT,
[QS;Al Anbiyaa',21:47] Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.

Sayang,
Aurat adalah perhiasan untuk mereka yang berhak, dan aurat seorang wanita hanya berhak dilihat dan dinikmati sepenuhnya oleh suami pendamping hidupnya, dan tidak layak dilihat oleh yg bukan muhrimnya. Begitu pula indahnya tubuh wanita, tidak seharusnya dilihat orang lain apalagi seluruh dunia bisa melihat keindahan itu lewat jendela kaca ini.

Dan, ingat sayang,
Seperti itu pula di akhirat nanti dinampakkan kesalahan seseorang dihadapan mata semua orang di padang maghsyar, dihari dinampakkan kesalahan,
[QS;At Taghaabun,64:9] (Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.

Maka sayang,
Mari berhati-hati, apalagi di jendela kaca ini, yg bahkan bisa dilihat oleh lebih dari 5milyar manusia,

[QS;Al Ahzab,33:59] Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[QS;An Nuur,24:31] Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Sayang,
Untuk kebahagiaan kita manusia, dan kesuksesan kita manusia, ALLAH memberikan pedoman,
[QS;At Taghaabun,64:8] Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

[QS;Ali 'Imran,3:200] Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Semoga ini merupakan peringatan bagi kita semua yg “mengerti”, dan segera kita memperbaiki kesalahan kita, menghapusnya dari lembar-lembar yg kita coret, semoga kita termasuk orang-orang yang takut akan murka dan azab ALLAH SWT.

Maafkan dolphin, tapi ini karena dolphin sayang pada sahabat dolphin.

Semoga ALLAH memberkahi kita semua.
Wassalamu’alaikum Wr Wb,,

Bookmark and Share
under: Uncategorized

Perjalanan Yang Singkat

Posted by: dolphind66 | 30 May 2009 | No Comment |

Dalam sebuah perjalanan, diatas bus aku duduk dideretan sebelah kanan, tepatnya dibelakang supir. Malam itu bus melaju kencang, speedometer merapat ke angka 100km/jam, malam yg gelap,tanpa ada sinar bulan, juga samping kiri dan kanan tidak berlampu jalan.

Sebelah kiri jalan ada sungai yg panjang, sebelah kanan jalan ada area persawahan yang luas. Dibagian jalan beraspal hotmix itu ada banyak rel lori melintasinya, malam itupun ada beberapa lori yang lewat, dengan tanda lampu kecil, agar supaya kendaraan berhenti dan tidak sampai menabrak lori pengangkut tebu yang lewat.

Disaat pikiran mencoba menata mencari makna sesuatu, sebuah sedan mewah menyalip dengan laju yang sangat kencang, dengan lampu halogennya yang amat terang. Dalam waktu yang tidak lama sudah lenyap dalam pandanganku yg duduk dibangku terdepan, hanya tampak sorot lampunya yg kelihatan makin kecil.

Dalam bis itu aku berpikir ulang, andaikan sedan mewah yang melaju sekencang dan secepat itu, tiba-tiba semua instrumen kelistrikannya putus, sehingga semua lampunya padam, padahal jalan didepan berbelok dengan pagar pembatas dari besi ddan beton, pastilah akan menabrak dan hancur berantakan karena tidak tahu lagi arah yang benar.

Bis yang aku naiki tetap jalan dengan kecepatan yang hampir konstan, membawaku dalam perjalanan dari Jember menuju Probolinggo. Aku melayangkan segala pikiranku kemana-mana, menyatukan berbagai hal, menghubungkan berbagai hal tersebut, berusaha membuat arah tautan yang dapat kujadikan pelajaran.

Aku mencoba merasakan suatu tautan-tautan itu, andaikan manusia dalam kehidupan yang amat gelap ini berjalan tanpa sebuah cahaya penuntun, apalah artinya. Tentunya akan berjalan dengan tanpa tahu arah yang benar, mana jalan salah dan mana jalan yang benar, dan akhirnya akan membawa celaka.

Demikian pula meskipun mereka sudah diberi pelita penerang, namun pelita itu tidak digunakan sebagaimana mestinya, malahan pelita itu dilempar kebelakang punggungnya, akankah bisa menyelesaikan seluruh perjalanan dengan selamat sampai tujuan.

Rasa kantuk mulai menyelimuti mataku, karena seharian itu aku belum juga istirahat, sehingga bis yang melaju kencang itu seperti menina-bobokkan aku. Tak terasa akupun tertidur dan baru terbangun ketika sudah hampir memasuki terminal Probolinggo.

Namun perjalanan masih panjang, aku biarkan diriku kembali dalam buaian bis yang melaju kencang itu. Kiranya kita kembali disadarkan oleh ALLAH SWT dengan Firman-NYA;

“QS Asy Syuura [42:52] Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruuhan (wahyu, Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. [42:53] (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.”

Bookmark and Share
under: Uncategorized

LAUTAN ITU BEGITU LUASNYA

Posted by: dolphind66 | 21 January 2009 | No Comment |

Dilautan yang begitu luas dan dalam, ternyata hanya sedikit yang telah diketahui manusia. Airnya yang begitu banyak, dengan berbagai tingkat salinitas didalamnya juga baru bisa diketahui manusia setelah teknologi yang dikuasainya mendukung untuk meneliti keadaan tersebut. Belum lagi sangat banyak hal lain yang belum bisa diketahui oleh makhluq yang bernama manusia.

Air yang demikian banyak itu, andaikan dipakai sebagai tinta, walaupun setelah ditambah tujuh kali lagi setelah habisnya, maka tiada akan bisa menuliskan “kalimat ALLAH”, “hukum ALLAH” di alam semesta raya ini. Dan jika jari telunjuk kita dimasukkan kedalam air itu, kemudian kita angkat, maka air yang menempel itulah ibarat jumlah ilmu seluruh manusia di bumi ini, dibandingkan dengan lautan “ilmu ALLAH SWT”.

Ternyata dilautan itu, banyak berlayar kapar besar dengan congkaknya, yang tidak menghiraukan dan memperhatikan perahu-perahu kecil para nelayan. Dengan kesombongannya menantang kekuatan alam, kekuatan yang ALLAH SWT letakkan ditiap ciptaannya. Mereka lupa, mereka merasa besar, mereka merasa bahwa dengan sesuatu yang dirangkai dan diciptakan akan membuat mereka kekal, membuat mereka hidup lebih lama.

Manusia lupa dan merasa dirinya besar. Namun cobalah pikirkan, ketika anda sedang tidur di sebuah taman di kebun belakang rumah, atau di sebuah perkemahan di lereng gunung yang indah, atau di tepian pantai yang hangat pasirnya, kemudian roh anda diajak naik pesawat, meninggalkan badan fisik anda sendirian tidur diatas tikar. Naik dan naik, 10 meter, 100 meter, 1000 meter, 10000 meter, terus sampai 1000000000000000 meter, teruuus… sampai 100 juta tahun cahaya.

Apakah anda masih terlihat??? Dimana badan fisik anda??? Yang anda sombongkan dengan wajah cantik/ganteng anda, dengan gagah/indah tubuh anda, dengan segala yang anda banggakan ???

Inilah kita, yang jauuuuh dari sempurna, mengapa kita masih sombong, seolah kita lebih tahu dari semua orang lain, seolah kita lebih cantik dari semua oarang lain, merasa lebih sempurna.

Saudaraku, adalah kebodohan yang sangat, jika kita masih seperti itu. Mari kita sadari, bahwa kita masih jauh dari sempurna, dan kita terus berusaha semaksimal kemampuan kita untuk mencontoh manusia pilihan, yang dipilih-NYA untuk menyampaikan risalah-NYA kepada seluruh manusia. Utusan itu telah memberikan contoh begitu lengkap dan sempurna.

Mengapa kita merasa lebih pandai, merasa lebih pintar, dan menuduhnya khianat, menuduhnya masih menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan, sehingga kita masih merekayasa sendiri cara ibadah kita kepada-NYA, sehingga kita masih menciptakan aturan aqidah untuk mendekat kepada-NYA, sehingga kita merasa tidak cukup hanya dengan mencontoh dan meniru aqidah dan ibadah yang diajarkan utusan itu (Rasulullah Muhammad saw).

Marilah kita sadari wahai saudaraku, kita masih jauh dari sempurna, kita harus terus berusaha meniru dan mencontoh aqidah dan ibadah Rasulullah Muhammad saw, meniggalkan buatan kita sendiri, meninggalkan buatan pemimpin kita sendiri yang mereka mengatakan untuk lebih afdlolnya, meninggalkan buatan nenek moyang yang tidak mendapat petunjuk dan hanya menduga-duga, mengira-ngira.

Apapun yang dikatakan orang lain kepada kita, jika cacian maka janganlah kita menjadi rendah diri, jika pujian maka janganlah kita menjadi besar kepala. Yang penting bagi kita adalah, ikhlash, hanya karena mencari ridlo ALLAH SWT belaka, hanya karena ingin bertemu dengan ALLAH SWT di sorga-NYA. Mengapa kita risaukan ocehan orang lain ???

Bookmark and Share
under: Uncategorized

AKU BISA

Posted by: dolphind66 | 12 January 2009 | No Comment |

Bila anda berpikir,
bahwa anda telah ditaklukkan,
maka sebenarnya anda telah kalah.
Bila anda berpikir, bahwa anda tidak mampu,
maka anda memang menjadi lemah.
Bila anda ingin menang, tetapi anda berpikir,
bahwa anda tidak bisa menang,
maka pastilah anda tidak akan bakal menang.
Bila anda berpikir, bahwa anda akan menderita rugi,
maka anda akan betul-betul rugi.
Karena dimanapun diseputar jagad raya ini,
sukses itu hanya berpangkal dari kemampuan seseorang,
yang mewujudkan jalan pikirannya.
Bila anda berpikir,
bahwa kedudukan anda tersisihkan dalam masyarakat,
maka anda akan mengalami perlakuan demikian.
Oleh sebab itu, anda hendaknya berpikir tinggi
dalam usaha meningkatkan derajat anda.
Anda harus yakin benar akan diri anda sendiri,
sebelum anda memenangkan suatu hadiah.
Pertarungan dalam medan juang hidup ini,
memang tidak selamanya mendatangkan keuntungan
bagi yang kuat ataupun yang cepat.
Akan tetapi, lambat atau lekas,
orang yang menang itu,
adalah orang yang berpikir bahwa……
DIA SANGGUP, DIA BISA.

Bookmark and Share
under: Uncategorized

Bagaimana jika gelap tanpa cahaya ?

Posted by: dolphind66 | 6 January 2009 | 1 Comment |

Berjalan kaki mendaki di bukit tandus, terjal berbatu tajam, semak berduri, dan disisinya lembah dalam menganga, dimalam yang hitam pekat kelam tanpa bulan menyinari, hanya kerlip bintang dilangit yang jauh. Belum pernah sekalipun kita menapakkan kaki ditempat itu. Bisakah untuk selamat sampai tempat tujuan, jika harus berjalan tanpa cahaya penerang? Walau mata terbuka lebar, namun tiada satupun keadaan didepan kita yang bisa tergambarkan, bahkan tangan kitapun tak dapat kita lihat. Bagaimana kita bisa selamat di tempat tujuan?

Mengendarai sepeda motor tiger terbaru, harus melakukan perjalanan dari Polsek Jambu, menuju Paltuding (sebagai perjalanan di lereng ijen), dimalam gelap, hujan dan berkabut, dengan jalanan aspal yang mulai rusak, batunya mulai berlepasan disana sini, licin dengan belokan-belokan tajam, turun dan mendaki 45 derajat. Bagaimana akan bisa selamat sampai tujuan jika lampunya yang terang itu tidak dinyalakan?

Sebuah sedan mewah yang baru, dengan perangkat canggihnya yang serba sempurna, dengan sopir/driver ahli, akan membawa kita menuju suatu tempat tujuan, yang harus melewati hutan di pegunungan, dengan jalanan mulus berhias tanjakan dan turunan yang tajam, penuh dengan belokan, satu sisi jalan adalah bukit batu dan satu sisinya lagi jurang dalam menganga. Berjalan dimalam gelap pekat, tanpa cahaya bulan. Bagaimana bisa selamat sampai tujuan, jika lampu halogen yang sangat terang tidak dinyalakan?

[42:52] Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (ruuhan,Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

[42:53] (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.

Seekor burung beo menyanyikan lagu cinta, bisakah dia dia menghayati dan tersenyum atau menangis? Atau mungkin dia membunyikan salam, ataupun membunyikan satu ayat dari Al-Qur’an, bisakah dia memahami dan selanjutnya melaksanakan?

Seekor keledai membawa buku-buku tebal, berisi pengetahuan yang hebat, luar biasa, dan spektakuler, juga berisi resep-resep kedokteran modern untuk penyembuhan penyakit-penyakit berbahaya dan mematikan. Bergunakah buku-buku itu bagi keledai tersebut?

Mari kita pikirkan, kemudian kita merencanakan, bagaimana selanjutnya kita bersikap dan berbuat, agar kesuksesan dapat kita raih di dalam kehidupan kita.

Bookmark and Share
under: Uncategorized

Makna Hijrah

Posted by: dolphind66 | 1 January 2009 | No Comment |

Perubahan, itulah mungkin yang abadi dalam dunia fana ini, karena tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik, bahkan tiap apapun ukuran waktu yang lebih kecil dari itu, setiap ciptaan ALLAH SWT akan berubah dan berubah. Tidak ada satupun ciptaan ALLAH yang tetap dan kekal, semuanya berubah menuju ke-kebinasaan, dari yang paling besar, bahkan sampai yang paling kecil sekalipun.

Demikian juga manusia yang juga tak luput dari perubahan itu. Tak terasa, sampai saat ini kita masih bisa merasakan nikmatnya bernafas. Padahal belum lagi hilang dari memory kita, bahwa kemarin kita baru bertemu, masih bersama, bercanda, menangis dan tertawa, akhirnyapun harus berpisah menyusuri jalan kehidupan masing-masing.

Lebih jauh lagi, kemarin baru saja kita dilahirkan oleh ibu kita, yang saat lahir kita tidak mengetahui apapun, selanjutnya hari demi hari tumbuh dan berkembang, dengan menerima pengetahuan sedikit demi sedikit, kemudian memasuki usia dewasa, dan akhirnyapun kita akan berlari menghampiri tua, dan akhirnya akan segera berpisah dengan kehidupan dunia fana ini.

Kita dapat melihat anak kita yang masih kecil, tiap hari kita peluk ketika tidurnya, tanpa terasa dia tumbuh dan menjadi besar disertai pengetahuan yang makin meningkat, dan semua itu kadang kita baru menyadari, ketika ternyata dia sudah berubah menjadi besar.

Mari kita perhatikan firman ALLAH dalam QS Al Ahqaaf:

15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Maka selanjutnya kita mesti berpikir, sudahkah panduan hidup dan pelajaran dari ALLAH kita tanamkan kepada mereka. Atau pula sudahkah panduan hidup dan pelajaran dari ALLAH kita pahami dan kita aplikasikan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jika jawaban dari pertanyaan ini adalah “belum”, maka kita harus segera menancapkan tonggak untuk kehidupan kita selanjutnya. Tonggak perubahan sebagai makna dari “HIJRAH”, berubah dan berpindah, meninggalkan segala yang dilarang dan tidak disukai ALLAH menuju segala sesuatu yang dicintai dan diridloi ALLAH.

Rasulullah Muhammad saw menyatakan “orang yang berhijrah itu dalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang ALLAH padanya”(Al-Hadits)

Demikian juga firman ALLAH dalam QS At-Taubah:

20. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

21. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal,

22. mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Kita mesti pula ingat bahwa, kita telah bersyahadat sebelum lagi kita lahir, yang semestinya pula selalu diingatkan dan disegarkan persaksian kita itu, oleh orang tua kita, oleh guru-guru kita, oleh saudara-saudara kita. Dan semestinya pula kita memberikan penyegaran itu kepada anak-anak kita. Kembali sebuah pertanyaan kepada kita, sudahkah kita menyampaikan dan memberikan penyegaran itu? Sebab disana, diakhirat, tidak lagi ada interupsi ataupun protes karena kita tidak mengerti atau karena kita tidak tahu.

Sebagaimana dijelaskanALLAH melalui firman dalam QS Al A’raaf:

172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

173. atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu[582]?”

[582] Maksudnya: agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa bapak-bapak mereka dahulu telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanyalah meniru orang-orang tua mereka yang mempersekutukan Tuhan itu. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa karena kesalahan orang-orang tua mereka itu.

Akhirnya pun kita harus benar-benar menancapkan tonggak peringatan kepada kita sendiri, bahwa setelah kita masuki tahun baru 1 Muharram 1430 H dengan “iman” yang utuh didada, kita akan benar-benar “berhijrah” dan selanjutnya “berjihad” dijalan ALLAH sepenuh hatidengan harta dan jiwa kita, sembari kita pinta kepada ALLAH untuk membackup seluruh perjuangan kita, sebagaimana doa yang ALLAH ajarkan kepada pemuda-pemuda penghuni gua.

Sebagaimana dijelaskanALLAH melaluifirman dalam QS Al Kahfi:

10. (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”

Akhirnya, semoga ALLAH SWT senantiasa memberkahi tiap langkah kita dalam seluruh aspek kehidupan kita. Aamiin.

Bookmark and Share
under: Uncategorized

1 Muharram 1430 H

Posted by: dolphind66 | 27 December 2008 | No Comment |

Dipenghujung tahun, syetan-syetan siap menabuh genderang kemenangan, mereka sudah menyiapkan pestanya beberapa hari sebelumnya, dan akan merayakan kegembiraannya dengan seluruh bala tentaranya.

Kalau dulu, dalam khutbah perpisahan di padang arafah, Rasulullah Muhammad saw menyatakan;

“Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya syetan itu telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia di negeri ini, akan tetapi syetan itu masih terus berusaha (untuk menganggu kamu ) dengan cara yang lain . Syetan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik.”

Kiranya kini saat itu telah tiba, ketika banyak manusia terkesima dan terlena oleh bujuk rayunya, seraya tunduk mengikut dan patuh pada janji-janji murahan yang ditebarkan. Janji yang kelihatannya sangat pasti, mereka menyentuh dengan menghubungkan dengan sesuatu yang sangat peka, “bapak-bapak kamu”, “para leluhur kamu”, dan sebagainya, dan sebagainya. Seolah dengan semua itu, -yang diajakkan syetan-, manusia mengira telah berbuat yang sebaik-baiknya.

Kiranya kita sekarang lebih takut kepada manusia, karena takut akan dikatakan sebagai orang yang tidak tahu adat, dan tidak menghormati leluhur dan orang tua yang sudah meninggal, dan sebagainya, dan sebagainya, sehingga kita harus ikut larut, dan menyatu bersama-sama mereka yang patuh dan setia pada ajaran yang tidak ALLAH turunkan dan perintahkan, ajaran yang tidak Rasulullah Muhammad saw ajarkan dan contohkan, yang sebenarnya semua itu hanya mengikut hawa nafsu belaka, baik hawa nafsu kita sendiri dan hawa nafsu orang lain yang kita ikuti, yang  inti dari semua itu adalah mengikuti nafsunya syetan yang dilaknat ALLAH SWT. Kita lebih takut kepada semua itu, daripada murka dan siksa ALLAH SWT. Kita lebih takut tidak punya teman di dunia, daripada ancaman neraka di akhirat.

Dibanyak tempat banyak para pengunjung dan penikmat acara yang penuh kesyirikan yang disponsori oleh syetan, mulai memesan tiket masuk, mulai yang murah di kelas ekonomi, sampai yang termahal di kelas eksekutif dan VIP. Para pengunjung dan penikmat itupun mulai mempersiapkan segala perlengkapan dan peralatan demi tidak terganggunya kelancaran acara, demi sukses dan meriahnya seluruh rangkaian acara.

Berbagai media untuk sesuatu yang disyaratkan para syetan mereka kenali, mereka akrabi, mereka jiwai, dan mereka akrabi dan geluti, sedangkan panduan yang sudah pasti, yang tidak ada keraguan lagi akan kebenarannya, yang tidak ada pertentangan antara satu tempat dengan tempat lainnya, Al-Qur’an, mereka abaikan begitu saja, tidak diacuhkan, tidak dihiraukan, tidak dipahami dan tidak dijalankan,  dilempar kebelakang punggungnya, dan ditinggalkan begitu saja. Maka bagaimana mungkin mereka akan bisa dekat dengan ALLAH, dan bagaimana mungkin mereka akan bisa mendapat kasih sayang ALLAH, bagaimana mungkin mereka mendapat perlindungan ALLAH, bahkan yang pasti, mereka akan lebih disayang oleh para syetan pemimpinnya itu.

Akankah kita ikut serta berpartisipasi dan mengisi daftar buku tamu pesta syetan itu?

Apakah yang akan kita lakukan jika kita menyatakan tidak mau mengikuti para syetan itu?

Jawabnya hanya pada hal-hal nyata yang kita perbuat, yang akan membuktikan apakah kita mengikuti syetan sebagai pemimpin ataukah tidak.

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 Hijriah

Bookmark and Share
under: Uncategorized

Adalah Pilihan Kita Sendiri

Posted by: dolphind66 | 23 December 2008 | No Comment |

Dengan kebebasan yang dimiliki manusia, memang dia bisa dan boleh melakukan apa yang dikehendakinya. Dan potensi untuk hal itupun sudah diberikan sebagai dukungan untuk memudahkannya. Dua potensi yang sama besar, potensi untuk menjadi yang terbaik, dan potensi untuk menjadi yang terjelek. Itu semua dikembalikan pada masing-masing pribadi manusia untuk memilihnya.

Adapun tugas kita hanyalah sebatas menyampaikan, tidak lebih dari itu. Juga tidak ada kekuasaan kita untuk memaksa mereka, pula tidak akan mampu kita mengubah mereka sesuai dengan kehendak kita, karena mereka telah terbentuk, terukir dan terpahat dari banyak hal. Dimulai dari lingkungan rumahnya sendiri, lingkungan tempat dia bermain dan berkumpul dengan teman-temannya, pun pula dari teman yang dipilihnya untuk menempa dirinya. Hanyalah dia sendiri yang bisa menentukan apa yang dia kehendaki, apakah akan membuka hati akal pikirannya, untuk menerima dan melaksanakan perubahan kearah lebih baik dan benar, ataukah justru menutup rapat-rapat hati akal pikirannya, sehingga kesalahan demi kesalahan akan terakumulasi dan lebih berperan mewarnai hidupnya.

Dan itupun berlaku bagi diri kita sendiri. Dua potensi besar itu ada pada diri kita, dan kitapun lebih berhak dalam kehendak mencari pilihan kita sendiri. Tinggal dasar mana yang kita gunakan. Bagi kita tentu tidak akan ragu lagi untuk mengikuti petunjuk jalan hakiki, petunjuk yang paling benar. Jangan sampai kita mengikuti hawanafsu, baik hawa nafsu kita sendiri maupun hawa nafsu orang lain, yang tentunya menyebabkan kita akan celaka.

[42:52] Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

[42:53] (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.

[35:32] Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

[18:29] Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang menghendaki (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang menghendaki (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

[6:119] Dan sesungguhnya kebanyakan (dari  manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Bookmark and Share
under: Uncategorized

Hidup penuh liku

Posted by: dolphind66 | 19 December 2008 | No Comment |

pengembaraan yg panjang

 

penuh gelombang dan badai menghadang

 

juga jala-jala yg kejam

 

kadang harus melampaui kepulauan berkarang

 

jika qt tidak teguh dengan visi qt

 

walau al-fatihah sudah qt bunyikan 17 kali sehari (minimum)

 

walau syahadat sudah qt bunyikan 9 kali sehari (minimum)

 

nyatanya tetap tidak punya arti

 

tetap saja kesyirikan qt jalani

 

tetap saja alasan klasik “nenek moyang” ; “adat” ; “kata guru saya” dan sebagainya

 

padahal:

dimana saja, kapan saja, minumnya coca cola

mungkin hanya 2 kali sehari qt dengar

 

Mengapa itu bisa mewarnai hidup kita???

Mengapa kita jalankan dengan semangat???

Malaksanakan, memegang, dan meminum “coca-cola”???

Mengapa???

Mengapa???

Bookmark and Share
under: Uncategorized

Dari dulu ya begitu ? Apa iya ?

Posted by: dolphind66 | 12 December 2008 | No Comment |

Masihkah kita hanya beralasan nenek moyang, sehingga apa yang kita tiru dari nenek moyang selalu diyakini sebagai suatu kebenaran. Mudah-mudahan firman ALLAH SWT berikut ini menjadikan kita mau menggunakan akal sehat kita untuk berpikir.

 

Al-Maa-idah [5]

104. apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.

105. Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[453]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

 

[453] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat petunjuk. tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

 

Al-A’raaf [7]

27. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

28. dan apabila mereka melakukan perbuatan keji[532], mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang Kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh Kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

29. Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu[533] di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”.

30. sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.

 

[532] Seperti: syirik, thawaf telanjang di sekeliling ka’bah dan sebagainya.

[533] Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.

 

Asy-syu’araa’ [26]

74. mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang Kami berbuat demikian”.

 

Luqman [31]

20. tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.

21. dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. mereka menjawab: “(Tidak), tapi Kami (hanya) mengikuti apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?

22. dan Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang Dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

23. dan Barangsiapa kafir Maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati.

24. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.

 

Az-Zukhruf [43]

21. atau Adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Quran, lalu mereka berpegang dengan kitab itu ?

22. bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak-bapak Kami menganut suatu agama, dan Sesungguhnya Kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”.

23. dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.

24. (Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) Sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.”

25. Maka Kami binasakan mereka Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.

 

Ali Imran [3]

31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

32. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

 

An-Nisa’ [4]

58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut[312], Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

61. apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

62. Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.

63. mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

64. dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya[313] datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

66. dan Sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. dan Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),

67. dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,

68. dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

69. dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

70. yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.

 

[312] Yang selalu memusuhi Nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan Abu Barzah seorang tukang tenung di masa Nabi. Termasuk Thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. berhala-berhala.

[313] Ialah: berhakim kepada selain Nabi Muhammad s.a.w.

[314] Ialah: orang-orang yang Amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.

 

 

Bookmark and Share
under: Uncategorized

Older Posts »

Categories